second time i meet ethnomathematics (actually many times) #2



Siapa yang pas kecil suka kirim req spasi dan habisin pulsa ortu buat kirim req spasi? salah satu req req gituan adalah req weton.tapi dulu saya suka pakai req yang ada mama laurenya. dan weton ada kaitanya dengan etnomatematika lho

 

HOLA AMOGUS. Jadi ini adalah postingan kedua aku tentang pengalaman aku yang aku tulis disini. isinya kali ini sama seperti yang sebelumnya yakni pandangan untuk yang kedua kalinya mengenai etnomatematika. Dimana aku sudah mulai terbiasa denganya sudah tidak secanggung dahulu. Aku mulai banyak sok tahu mengenai etnomatematika. tapi karena sok tahu itu jadi saya sendiri bingung sendiri pas buat ini. Langsung saja ke intinya. 

Untuk minggu ini isinya adalah contoh-contoh etnomatematika. Jika Anda masih tidak mengerti mengenai etnomatematika. Intinya etnomatematika merupakan hubungan atau aplikasi matematika dengan kebudayaan atau adat istiadat. Kebetulan di Jawa kebudayaan ini itu banyak sekali. Masalahnya apakah bisa dijadikan sebagai alat untuk pembelajaran matematika? Apa harus banget budaya setempat? Budaya dari daerah lain bagaimana. Disini akan dibahas etnomatematika dari berbagai sisi. Sekaligus contoh-contohnya

 

Pertama membahas matematikanya terlebih dahulu. Matematika dalam konteks sekolah itu berbeda dalam matematika dalam pekerjaan atau perkuliahan. Cara atau gaya belajar berbeda. Pemahamanya berbeda. Konteks saja berbeda. Maka jangan samakan pembelajaran matematika di SD sama di kampus. Kalau konteksnya di sekolah maka matematika merupakan

1.        Kegiatan penelusuran pola dan hubungan

Mendorong dan memberi kesempatan siswa untuk melakukan penelusuran, mengolah data penelusuranya dan membuat hasil atau kesimpulan dari penelusuran.

      2. Matematika adalah kreativitas yang memerlukan imajinasi, intuisi dan penemuan Dituntut untuk memiliki rasa ingin tahu, pemikiran reflektif, kreatif, inovatif dalam matematika

3.       Matematika adalah kegiatan problem solving

Mendorong untuk memecahkan permasalahan matematika dari berbagai cara atau pandangan. Tentunya agar menambah kemampuan pemecahan masalah

4.        Matematika merupakan alat berkomunikasi

 

Di sisi lain, Ebbutt dan Straker (1995: 60-75), memberikan pandangannya bahwa agar potensi siswa dapat dikembangkan secara optimal, maka asumsi dan implikasi berikut dapat dijadikan sebagai referensi :

1.        Murid akan belajar jika mendapat MOTIVASI

Motivasi yang dimaksud disini adalah guru memberi kegiatan yang menyenangkan, kalau tidak suka yang menyenangkan. Memberi saja kegiatan yang extreme kalau siswa sukanya yang extreme-extreme. Guru harus peduli terhadap apa saja kemauan siswanya. Apapun kegiatan pembelajaranya yang penting kewajibanya tetap harus sesuai tujuan pembelajaran

2.        Murid belajar dengan caranya sendiri

Tiap siswa satu dengan lainya saja berbeda. Gaya belajar berbeda. Ada yang belajar sambil makan, ada yang belajar tidak mau sambil mendengarkan musik. Apapun itu guru dilarang keras melarang siswa belajar dengan gaya tertentu. Guru harus bisa menciptakan kegiatan pembelajaran yang setidaknya mengakomodasi gaya belajar semua siswa. Guru harus setidaknya tahu dimana kelebihan dan kekurangan siswa. Tentunya agar guru dan siswa sama-sama berhasil

3.        Murid belajar secara mandiri dan melalui kerja sama

Sebenarnya belajar bersama-sama itu wajib bagi siswa karena bisa membangun kemampuan bersosial dan melatih kerja sama.Belajar secara klasikal memberikan kesempatan untuk saling bertukar gagasan. Tentunya gagasan-gagasan tersebut akan menghasilkan sebuah keputusan dan semua siswa harus dilibatkan dalam penentuan keputusan

4. Murid memerlukan konteks dan situasi yang berbeda-beda dalam belajarnya. Implikasi pandangan ini bagi guru adalah

4.  

Intinya konteks inilah yang menjadi jalan pembuka untuk membahas etnomatematika Kalau yang penasaran sama yang lebih lengkap dari pembahasan diatas. Ini dia linknya (bukan link phising)  http://staffnew.uny.ac.id/upload/131268114/penelitian/Revitalisasi+Pendidikan+Mate matika_Varidika+Jurnal_Surabaya.pdf

Kedua. Contoh-contoh etnomatematika

1.        Primbon

Saya tidak mau bahas primbonnya. Tapi bahas etnomatematikanya. Pasaran kan ada lima hari. Hari biasanya kan ada tujuh hari. Tiap pasaran punya neptu masing-masing. Jadi yang dihitung disini adalah sisa dari neptu hari dan neptu pasarannya dibagi sembilan. Neptunya merupakan tanggal lahirnya ya. Misal saya lahir tanggal 11 Januari 2000. Saya lahir Selasa Legi. Dan neptu hari= 3. Neptu pasaran= 5. Kalau dijumlah 8. Dibagi 9 sisa 8. Jadi Tiap sisa dari suami dan istri inilah akan dilihat berdasarkan weton bakal menjadi seperti apa. Misal sisanya 4 dan 5 maka sesuai weton pasangan ini bakal punya banyak rencana.

 

Weton bukan Cuma untuk suami istri. Untuk saya sendiri juga bisa. Weton bisa digunakan untuk melihat karakter atau sifat seseorang. Misal




Saya tidak tahu kenapa bisa begini. Dan kebanyakan betul. Tapi saya sendiri ga percaya kok sama weton ginian. zodiak aja saya udah ga percaya gitu setelah yang bikin zodiak ngaku di twitter kalau dia ngarang. Tapi setelah kulihat beda sih weton sama zodiak. saya ga tahu yang zodiak buat prediksinya pakai cara apa tapi kalau weton memang berdasarkan tanggal lahir


2.   Rumah gadang

Minggu lalu bahas rumah joglo. Saya tambahkan saja dengan rumah gadang. Link kalau mau baca: https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/analisa/article/view/5942/3581


Siapa sih yang tidak kenal dengan rumah gadang. Rumah yang penuh estetika dengan ciri khas minang. Kalau di daerah saya rumah gadang paling bisa ditemukan di resto- resto padang. Karena rumah adat di daerah saya semuanya joglo. Konsep matematika yang bisa ditemukan disini adalah trigonometri. Ngomong-ngomong masalah ini juga ada di buku matematika wajib dari kemendikbud kelas 10. Jadi ternyata dan ternyata etnomatematika juga sudah diterapkan di buku-buku matematika. Keren

Terus dimana bentuk segitiganya?


Nah sudah jelas kan? Kalau tidak tahu apa itu trigonometri? wikipedia yang baik hati akan mengantarkanmu menjelaskan apa itu trigonometri https://id.wikipedia.org/wiki/Trigonometri
Lihatlah gambar ini. Apa yang bisa kita temukan?

Benar sekali. Refleksi. Materi transfromasi. Masih banyak contoh etnomatematika. Etnomatematika tidak hanya bekaitan dengan budaya saja. Bisa saja berkaitan dengan alam atau benda tertentu yang biasa digunakan oleh masyarakat tertentu atau memiliki nilai kebudayaan atau adat istiadat.

Terakhir. Lantas bagaimana penerapan etnomatematika dalam LKPD? Ini saya punya contoh LKPD. Tapi saya yang mencarinya.

Misal mengenai pola bilangan. Kadang motif dalam batik atau tenun itu berpola. Kayaknya hampir semua motif dalam batik atau tenun punya pola. Contohnya seperti ini


Menurut standar LKPD etnomatematika yang diterapkan oleh Pak Heru. LKPD ini bagus karena mengenalkan terlebih dahulu mengenai motif buna walau cukup singkat. Setelah itu diberikan permasalahan matematika yang berkaitan dengan motif buna. Ada yang bisa jawab?

 

LKPD yang bagus adalah LKPD yang tidak berpusat pada guru melainkan ke siswa. Siswa sendirilah yang melaksanakan hal-hal yang dilakukan dalam LKPD. Peran guru hanya mengawasi dan membimbing agar tidak sesat. Dan etnomatematika LKPD perlunya diberikan informasi mengenai kebudayaan terlebih dahulu baru implementasinya.

Oke itu saja mengenai etnomatematika pada minggu kedua kalau saya ada kolom kometar bisa deh hujat sepuas hati. kalau mau mengucapkan terima kasih boleh juga. ADIOS









Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENGALAMAN AKU IKUT WEBINAR INOVASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA BULAN SEPTEMBER 2021. #3