PENGALAMAN AKU IKUT WEBINAR INOVASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA BULAN SEPTEMBER 2021. #3
Untuk keenam kalinya dalam webinar series . Pendidikan Matematika UNY mengadakan webinar
untuk mahasiswa pendidikan
matematika UNY dan alumninya. Temanya: Inovasi Pembelajaran Matematika. Nah
moderatornya dan pengisi webinar bisa dilihat di gambar atas ya.
Pembicara pertama yakni Dr. Sri Wulandari.
Disini saya tidak akan membahas sesi tanya jawabanya. Hanya inti materinya saja.
Pertama membahas
PISA Indonesia dengan
negara lain yang bisa dibilang
miris, pakai banget. Bagaimana tidak miris kalau metode
pembelajaranya masih terpusat pada guru. Guru hanya memberikan rumus, bagaimana
cara menggunakanya. Justru sekarang kemampuan literasi yang dibutuhkan siswa.
Karena konteksnya matematika jadinya Literasi
Matematika.
Kompetensi penunjang
literasi matematika
1.
Berpikir matematis
Pertama
mengenai metode matematika misal menyederhanakan, konten matematika misal
tentang aljabar. Dan matematika attitude misalnya melakukan penyelesaian dalam
masalah matematika
2.
Argumentasi matematika
Misal membuktikan
sesuatu dengan kontradiksi atau induksi matematika
3.
Komunikasi matematika
meliputi
kemampuan mengekspresikan suatu hal dalam berbagai cara dengan lisan, tulisan
dan bentuk visual lainnya,
4.
Model
Membuat model dari
permasalahan matematika
5.
Problem posing and
solving
yaitu
meliputi pengajuan, perumusan, pendefinisian dan penyelesaian masalah dengan
berbagai cara,
6.
Representasi
7.
Simbol
yang
meliputi kemampuan menggunakan simbol, formal dan bahasa teknis serta
operasinya,
8.
Tools and technology
yang
meliputi kemampuan menggunakan media dan alat termasuk teknologi. Menurut de
Lange (2006:16),
literasi matematika mencakup empat poin sebagai berikut:
1.
literasi matematika merupakan
kemampuan menfungsikan pengetahuan dan keterampilan matematika dalam berbagai
konteks dengan berbagai cara, reflektif dan berbasis wawasan,
2.
Istilah literasi berarti spektrum
multidimensional yang berkelanjutan mulai dari aspek fungsi dasar hingga
tingkat penguasaan yang tinggi
3.
Literasi merupakan kemampuan untuk
menampilkan, merumuskan dan memecahkan masalah matematika yang bersifat intra
dan ekstra dalam berbagai domain dan latar belakang masalah,
4.
Sikap (attitudes) dan emosi seperti
rasa percaya diri, rasa ingin tahu, ketertarikan, keinginan untuk melakukan
sesuatu atau memahami merupakan prasyarat penting yang berpengaruh terhadap
literasi seseorang
Untuk
menciptakan pembelajaran yang berkualitas, perlu adanya pengembangan SDM yang dimana siswa dapat menganalisa
dan menalar dan mengkomunikasikan idenya dan hasil melalui penyajian dan
pemecahan masalah matematika. Kemudian dibahas mengenai Identitas budaya yang
berkaitan dengan literasi matematika. Perlu diketahui bahwa dalam budaya siswa
sendiri akan menemukan matematika disitu. Salah satu pandangan yang mendukung
literasi matematika untuk identitas budaya adalah pendekatan ethnomathematics
yaitu kesadaran adanya praktik-praktik matematika dari berbagai kelompok budaya.
Selain
itu Literasi matematika untuk perubahan sosial (social change) diajarkan agar
siswa dapat menggunakan matematika sebagai
alat untuk mengkritisi masalah-masalah sosial yang muncul sebagai bentuk kepedulian siswa. Dan Literasi
matematika untuk
kepedulian lingkungan (environmental awareness) diajarkan untuk memberikan pendidikan lingkungan pada siswa melalui isu-isu seperti polusi, perubahan iklim, pembakaran hutan dan sebagainya. Masalah lingkungan ditambahkan sebagai topik penting dari aplikasi matematika. Bentuknya adalah data dan hasil berupa model matematika dari suatu laporan tentang isu lingkungan. Terakhir. Literasi matematika untuk mengevaluasi matematika (evaluating mathematics) didorong oleh kepentingan pengembangan matematika sebagai ilmu pengetahuan. Dari sini ternyata literasi matematika banyak sekali peranya dalam bidang lain. Bahkan lebih dari empat diatas.
Materi kedua
yakni
SITUATION-BASED LEARNING SEBAGAI
INOVASI
PEMBELAJARAN MATEMATIKA.
Pembelajaran SBL merupakan model pembelajaran konstruktivistik untuk membangun konsep
dengan mempelajari apa yang
terkandung dalam suatu situasi. Model pembelajaran SBL dapat dijadikan sebagai
jembatan untuk menghubungkan konsep matematika abstrak dengan situasi yang
bersifat konkret atau nyata dalam kehidupan sehari-hari. Untuk karakteristik
SBL bisa dilihat pada gambar dibawah ini
Model pembelajaran SBL terdiri dari empat
tahapan yaitu
1.
creating mathematical situation,
Guru
membuat suasana atau situasi matematis yang dapat merangsang siswa untuk
bertanyadalam konteks pertanyaan matematis. Situasi matematis
yang dihasilkan harus sesuai dengan situasi dalam
kehidupan sehari-hari sehingga memuncukan berbagai pertanyaan matematis yang
tidak dapat dijawab langsung oleh siswa melainkan harus membuat strategi dalam menjawabnya.
2.
posing mathematical
problem
Siswa
mengungkapkan hal-hal yang ingin diketahui dari situasi yang diberikan oleh
guru. Melalui kegiatan menyelidiki dan menduga situasi yang guru berikan, siswa
menebak, sekiranya informasi-informasi apa saja yang dapat digali. Kemudian,
dari informasi yang dapat digali tersebut, siswa ubah menjadi kalimat tanya.
3.
solving mathematical problem
Merupakan
tahap dimana siswa menyelesaikan masalah dari situasi yang tersedia. Siswa
menyelesaikan masalahnya sendiri dengan caranya sendiri.
4.
applying mathematics.
Langkah
kegiatan siswa dalam menerapkan konsep/rumus/aturan matematika yang baru saja
ditemukan dari kegiatan solving problem matematis, Tujuanya bahwa matematika
itu ternyata bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari
Yang mendukung SBL
1. Adanya bahan ajar yang dirancang khusus sesuai dengan karakteristik pembelajaran SBL
2. Adanya media pembelajaran
3. Kegiatan diskusi kelompok
4. Komunikasi yang baik selama proses pembelajaran
5. Terdapat tutor sebaya dalam pembelajaran
Oke ke materi ketiga. Inovasi Pembelajaran Matematika melalui Konteks Budaya. Lagi dan lagi etnomatematika. Hanya saja yang ini saya tidak mengikutinya karena harus pergi bareng adik ada urusan sesuatu. Tetapi intinya budaya di Indonesia banyak dan seharusnya bisa diexplore dan dijadikan bahan/topik untuk pembelajaran matematika.
Walau tidak sampai full. Tetap saya kasih rating untuk webinar ini 8,9/10. Cuman ini bukan webinar yang paling bagus. Tetap paling bagusan webinar pertama yang narasumbernya Bu Djamilah. Untuk pak Heru. Perihal moderator sudah keren, interaktif, walau tidak sempurna.
Semoga ada webinar
lagi dari Jurdikmat. Tapi kalau bisa jangan bayar sertifikatnya. Tapi kalau LSM beda lagi seminarnya wajar kalau bayar. ADIOS
Komentar
Posting Komentar